Jumat, 28 Oktober 2011

GADIS UNGU



semua nya brawal dari kedua mata,,
ketika aq hnya brani mencuri pemandangan senyum mu dari kejauhan kursi trbelakang,,
krna memang drimu tak kasat di pandang oleh sembarang mata,,
kemudian seiring perjalanan waktu,,
aq mulai membranikan diri untuk bertanya,dan selanjutnya untuk berbagi cerita,,
niatqu pun begitu tuluz melihat stiap langkahmu yg qu anggap luruz..
dan aq pun semakin ingin membuatmu menyukaiqu..
pun ingin mendampingimu agar kau mampu menjaga kemurnian n kesucian niat dalam mewujud kan berbagai cita cita,,
serta mejadikan mu semakin n lebih kuat menghadapi ujian n cobaan yg kian akan datang..
namun haruz kau tau aq hnya seorang perempuan biasa yg memiliki sedikit sekali kelebihan bahkan trlalu menumpuk kekurangan....
Alangkanh suka n bangga nya diriqu saat aq tau bahwa kau adalah lulusan Aliyah,,bukn seperti aqu yg tdk pernah menginjak madrasah,,hanya lulusan sekolah menengah..tidak sprti mu yg slalu mendapatkn tarbiah sejak tsanawiah..
   Namun tnp sengaja qt ditakdirkan mengasah ilmu di universitas yg sama mezkipun sebntar saja krn kau haruz berhijrah ke universitas yg lebih berkelaz...
   AQ sedih,,luka n lemah krn tak lg dapat mencicipi embun di senyum mu..
tak lg dapat melihat alis hitam yg membanggakan di kerutan kening tipiz mu..
tak lg biza menghirup aroma pakaian sederhana mu..
konon lagi meluapkan kata ??????????
  Saat lalu aq pun parnah brtnya : "apakah kau akan mengingat aq hingga luluz kuliah???"..jawabmu dgn senyum manja :"untuk slamanya kau akan slalu mengingat n merindui qu di manapun kau berpijak "...
kmudian 1 pertanyaan konyol keluar lg dr otak kanan qu,,"Apakah kau pernah terlintas untuk berpoligami suatu masa nanti?????"..jawab mu dgn scuil tawa di bibir bhkan mungkin sampai ke hati:" aq blm bisa menerima bila hal itu terjadi nanti "...PUN kau bilang " AQ tadak bisa seperti "FAHRI" yg harus belajar ikhlas dan adil pd "AISYAH" N "MARIA " dalam kisah "AYAT-AYAT LOV" krna kau merasa masih banyak sekali brbuet salah dalam melafaz hukum tajwid maupun huruf hijaiyah...
  INIlah yg membuatqu sangat ingin menjadi yg halal bagi mu..agar qt dapat belajar bersama,dan menerangi setiap sudut istana dgn alunan ayat AL-QURAN..
   SEbulan berlalu mampu qu lakoni,,kau tinggal kn aq untuk mengeruk ilmu di luar kota..kau slalu berkata di udara bhw kau rindu dgn hari2 qt melangkah bersama..
   setahun berlalu kau pun masih bertahan menjaga cinta dan asa yg qu titipkan..
AKHIR TAHUN 2007,,ntah knp qu rasa qt mulai sdikt terjauhkan,,alasan nya sangat sepele lepe,,yaitu g ada wktu sebab kerjaan n pelajaran..saat itu aq berpikir untuk tdk trlalu memaksakan setan di hatiqu agar kau tetp ada wktu untuk menyapaqu setiap hari..jauh dalam relung sujud aq bermunajat :
    " dalam do'a qu bersimpuh pasrah memohon datang nya jawaban dari sang pemberi rasa n hidayah.."
    " bila jawaban itu masih menggantung di langit,maka turun kn lah,,"
    " bila jawabn itu masih trpendam di dlm perut bumi ,maka keluarkan lah,,"
    " bila jawaban itu masih jauh, maka dekat kan lah,,"
    " bila jwbn itu masih sulit qu raih, maka mudah kan lah.."
        kini 2 tahun telah kau ada di kota sebrang sana,,bhkn mungkin lebih be2rapa bulan lama nya..
dan aq tetap tuluz percaya tnp noda setitikpun bahwa kau masih utuh milik hati kecil qu,percaya kau masih slalu mengingat qu,,n merindui senyum sederhana qu..
         21 oktober 2008,,hr ini ntah hr yg keberapa aqu basahi kulit wajah ini dengan air bening yg sgt brharga untuk kejauhan mu dari pandangan..dan aqu mulai merasa ragu secuil akan cintaa tuluz mu yg dulu..semakin sering merasa kebekuan pilu,,lirih perih sakit mencekik..
   AQ menjadi dilema saat........

"cerita ini adalah cerita nyata yang di alamai oleh penulis dan di bagikan sesuai dengan ijin dari penulis namun cerita ini bersambung...di karenakan ada hal-hal yang membuat penulis menundanya dan tidak memberikan alasan,,dan penulis berjajnji akan melanjutkannya"
Aiyathy Fireflyweakless 

Kamis, 27 Oktober 2011

Kumpulan kata-kata bijak


inilah kumpulan kata kata bijak tentang kehidupan 2011

Jangan jadikan suatu kegagalan sebagai alasan untuk takut mengalaminya kembali sehingga anda tak mau mencoba lagi , tapi lihatlah kegagalan sebagai kesuksesan mengetahui cara yang salah

Apabila kamu melihat suatu keindahan, bersyukurlah karena kamu masih bisa menikmati keindahan yang belum tentu akan kamu bisa lihat lagi.

Waktu adalah pedang, jika kamu bisa menggunakan dengan baik, maka pasti akan membawa keberuntungan, tapi jika kau menggunakan dengan buruk, pasti dia akan membunuhmu.

Hargai dan hormati orang lain jika kita ingin dihormati dan dihargai orang lain, serta hormati dan hargai diri sendiri terlebih dulu baru kita bisa menghargai dan menghormati orang lain.

Syukurilah apa yang kamu dapat karena belum tentu kamu bisa mendapat lagi apa yang telah kamu dapat.

Satu harta yang sangat berharga yang jarang dimiliki orang masa kini, itulah kejujuran.

Hakekat semua manusia mempunyai derajat yang sama, kita tak perlu membedakannya karena akibatnya akan membuat diri kita juga rendah.

Ketika diri kita merasa telah dikhianati dan dikecewakan, berdoalah agar suatu saat kau tak akan mengkhianati dan mengecewakan, karena kamu juga telah merasakan betapa sakitnya dikhianati dan dikecewakan.

Cinta bukanlah satu-satunya alasan hidup namun tanpa cinta juga hidup akan terasa hambar dan membosankan.

Kematian itu datang tiba-tiba, maka apakah kamu masih berpikir untuk selalu menikmati dunia??

Kesuksesan selalu punya harga yang harus dibayar. OranG yang super sibuk sukes, mulai dari Boss Microsoft Bill Gates, atau Boss CNN Ted Turner, atau Albert Enistein, atau siapapun itu, selalu punya “luka” yang jarang dapat diketahui orang luar. Orang luar hanya melihat “enak”nya saja.

Semua orang sukses terlihat enak, nyaman, kaya, baik, tanpa masalah. Itu tidak benar, orang sukses selalu mempunyai masalah dalam hidupnya. Apapun bentuk masalahnya.

Jangan berusaha/mengerjakan sesuatu dengan setengah hati, karena hasil yang kamu dapat juga hanya setengahnya.

Jangan lelah untuk mencari ilmu karena segala sesuatu di dunia ini perlu ilmu, jika tak ada ilmu maka kita sama saja dengan orang mati, tak akan bisa berbuat apa-apa.

Datangilah sahabatmu di saat dia susah dan lenyaplah di saat dia bahagia, karena sesungguhnya kamulah yang akan diingat di saat dia sedang susah di saat kamu membantunya

Sesungguhnya di saat kesusahan teman, satu senyum yang tulus lebih berharga daripada sejuta kata yang tiada guna.

Sesungguhnya masih banyak orang di dunia yang lebih susah dari kita, maka hentikanlah segala keluhan kita dan bersyukur terhadap apa yang kita punya.

Berusaha untuk selalu berfikir positif dan optimis dalam semua kesulitan ,Jangan terobsesi pada pengalaman masa lalu atau masa depan, tapi tataplah masa kini. Masa lalu sudah lewat, tak akan kembali lagi, masa depan itu belum terjadi jadi kita tak tahu apa yang terjadi dan akhirnya hanya berangan berharap sesuatu, tapi di masa kinilah, kita harus menentukan dan membuat keputusan terhadap diri kita.

Berfikir positif dan optimis terlihat seperti kalimat puisi yang sepele, tapi sdarilah ini sangat penting dalam peran anda mengambil keputusan yang akan menentukan kesuksesan atau kehancuran

Bercerminlah dari kesalahan orang lain, selain dari kesalahan diri kita sendiri,bercermin pada kesalahan diri sendiri supaya tidak terjatuh pada lubang yang sama, dan dengan bercermin dari kesalahan orang, maka akan lebih memacu kita agar kesalahan itu tidak menimpa kita.

Jujurlah meskipun kejujuran itu membawa kita ke neraka.

Tidak akan keadilan bisa ditegakkan selama kita masih acuh terhadap hukum yang ada dan mementingkan kepentingan pribadi.

Jika kamu mencintai seseorang, cintailah dia apa adanya, bukan karena kamu ingin dia menjadi seperti yang kamu inginkan, karena sesungguhnya kamu hanya mencintai cerminan diri kamu pada dirinya.

Bermimpilah akan sesuatu dan jadikanlah mimpimu itu kenyataan, sesungguhnya tak akan ada dunia ini jika tak ada yang bermimpi

Jika kamu gagal mendapatkan sesuatu, hanya satu hal yang harus kamu lakukan, coba lagi!!!!

Janganlah kamu mencintai seseorang karena paras/wajahnya, hartanya dan jabatannya, tapi cintai karena kebaikan dan ketulusan hatinya karena diantara itu semua, hanya kebaikan dan ketulusan hatinya yang tetap abadi.

Selasa, 18 Oktober 2011

Wisata Aceh Tamiang, (Bukit Kerang)


Bukit Kerang Aceh Tamiang
Objek wisata Bukit Kerang adalah situs archaelogical era Mesolithic ditemukan di Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh, Indonesia.
Situs membentang sekitar 120 kilometer ke Tembung, bagian dari Medan di Sumatera Utara, di bagian selatan Kabupaten Aceh Tamiang. Dua situs telah diidentifikasi oleh Pusat Arkeologi Medan (Balai Arkeologi Medan). Selama ribuan tahun situs telah ditarik lebih jauh dan lebih jauh dari pantai. Jarak situs dari pantai sekarang adalah sekitar 10 hingga 15 kilometer. Para arkeolog yang pertama kali meneliti situs itu arkeolog Belanda di tahun 1920 ke tahun 1930-an.
Bukit Kerang Aceh Tamiang

seperti yang ditulis Tempat Wisata Indonesia, Situs prasejarah dinamai “Bukit Kerang”, yang berarti “bukit kerang moluska”. Bagian paling penting dari itu adalah sebuah gundukan kerang yang besar, terbentuk dari massa kerang moluska. Prasejarah orang era Mesolithic (dating 5.000-7.000 tahun yang lalu) hidup oleh pantai timur Sumatera dan moluska adalah bahan makanan termudah yang bisa ditemukan. Setumpuk limbah kerang moluska dibangun dari waktu ke waktu. Ada juga tengkorak, brainpans dan tulang yang telah ditemukan di dalam situs. Salah satu gigi tengkorak itu terbuat dari hematit.
Alamat Lokasi Bukit Kerang ini berada Desa Jambo Labu, Kecamatan Bendahara, Kabupaten Aceh Tamiang, Cara Menuju Lokasi Bukit Kerang ini anda bisa menggunakan kendaraan roda dua atau kendaraan roda empat.Bukit Kerang ini juga terdapat di desa lainnya di Kabupaten ini yaitu di Desa Pangkalan, Kec.Kejuruan Muda, yang merupakan salah satu situs purbakala, dimana telah ditemukan fosil-fosil manusia purba yang telah hidup ribuan tahun yang lampau.

di ambil dari : Tempat Wisata Indoesia

Peninggalan sejarah yang terbengkalai


Puluhan orang dan kendaraan roda dua serta roda empat terlihat ramai memadati jembatan yang di bangun puluhan tahun yang lalu,
namun padatnya jembatan tersebut bukan karna ada hal yang menarik untuk di kunjungi, melainkan satu-satunya titi penghubung di tiga Kecamatan Kabupaten aceh tamiang ini putus.

Hal ini bukan pertama kalinya terjadi, melainkan hampir setiap bulan titi yang sering di sebut warga sebagai titi Glodek ini mengalamai hal yang sama, penyebabnya tidak lain adalah selain usia jembatan yang suudah terlalu lama, faktor kendaraan truk yang melintas melebihi tonase yang melintas di jembatan tersebut melampaui batas maksimal, selain itu kurangnya respon Pemda Aceh Tamiang yang mengakibatkan hancurnya jembatan penghubung di Kecamtan Tamiang Hulu, Kecamatan Tenggulun dan Kecamatan Bandar Pusaka tersebut. Padahal jembatan ini adalah jembatan peninggalan sejarah yang semestinya di renovasi agar terjaga kealamianya.

Akibatnya segala aktifitas yang terjadi melewati jembatan ini terhambat, baik dari segi ekonomi maupun waktu warga mengalami kerugian yang luar biasa. Semoga Pemda Aceh Tamiang dapat merespon dengan cepat hal-hal yang menyangkut kepentingan khalayak ramai.

Senin, 17 Oktober 2011

Hanya Sekilas

Saat menjadi seorang mahasiswa saya sangat terinspirasi dengan hal-hal yang berbau aktifis, berbagai macam kegiatan yang telah di buat dan saya ikuti, sampai akhirnya keinginan memiliki sebuah pekerjaan yang masih berbau aktifis bersarang di benak saya.
Melihat kondisi sekitar banyak teman-teman mantan aktifis menjadi sukses karena ilmu dan tanggung jawab kuat yang mereka miliki, namun tidak sedikit mantan-mantan aktifis hanya menjadi pengangguran yang hanya bisa membuat sebuah penekanan di daerah untuk mendapatkan keuntungan dari itu.
Sadar akan kondisi tersebut saya membulatkan tekad untuk kembali ke daerah asal agar saya dapat mengembangkan keinginan saya serta memajukan daerah, alhamdulillah tak lama saya kembali saya langsung menanda tangani kontrak di salah satu LSM lokal yang sedang menjalankan program bantuan dari luar.
di sanalah awal mula saya menjajaki kegiatan yang bersifat masyarakat di luar kampus, awalnya saya sangat bersemangat dalam segala hal di karenakan keingintahuan yang kuat dari dalam diri, waktu demi waktu telah bergulir saya masih tetap bersemangat dalam segala hal walupun berbagai macam kendala yang saya hadapi baik faktor alam maupun faktor kemanusiaan, namun sejalan dengan itu bukan saja masalah pekerjaan yang selalu saya hadipi namun permasalahan prinsipil dan kepribadian yang harus di tangani.
Tak bisa saya pungkiri ilmu yang saya dapatkan di dalam kampus (bukan di dalam perkuliahan) membuahkan hasil yang sangat luar biasa bergunanya bagi saya dalam segala hal.
maka dari semu hal tersebut kita tidak boleh melewatkan satu hal apapun yang ada di hadapan kita demi kebaikan.
pada akhirnya segala sesuatu yang kita laksanakan akan membuahkan hasil.


mengutip kata-kata seorang sahabat :


"dimana tempat adalah sekolah, siapapun orangnya adalah guru, maka kita akan mencapai puncak kecerdasan tanpa batas"

Minggu, 16 Oktober 2011

"Nongkrong"


Nongkrong..
adalah kata yang seing di gunakan remaja sekarang untuk ngumpul atau duduk bersama di suatu tempat, banyak manfaat dan mudarat dari kegitan "Nongkrong",
Manfaatnya :
1. Bisa mendapat pengalaman dan wawasan
2. Menambah banyak teman
3. Nga' ketinggalan jaman, dan yang terakhir
4. Bisa dapat pasangan (itupun klo lagi mujur)

Mudaratnya :
1. Mengahbiskan waktu sia-sia
2. Ngabisin uang jajan (harusnya bisa di tabung)
3. Jadi lupa ma Agama
4. Jadi Males Mandi (makan tetep)

Sebenarnya masih banyak lagi manfaat dan mudaratnya, tapi gambaran di atas hanya untuk sebuah peringatan.
Nah kesimpulanya "Nongkrong se boleh-boleh aja (gua juga suka nongkrong kok) tapi nongkronglah yang banyak manfaatnya bukan cuma ngabisin waktu yang berguna.
mengutip kata-kata orang jaman, "katanya waktu itu g bisa di putar ulang, maka gunakanlah waktumu sebaik dan sebisamu dengan hal-hal yang berguna". Thank's alot

Sabtu, 15 Oktober 2011

Kerajaan Benua Tamiang - Aceh

Seperti halnya dengan Peureulak demikian juga dengan Tamiang; artinya sampai saat ini belum terdapat kesamaan pendapat mengenai kapan masuk, berkembang dan tumbuhnya kekuatan politik Islam di sana. Menurut A.Hasjmy raja pertama yang memerintah di kerajaan Islam Benua Tamiang ialah Raja Meurah Gajah (580-599 H = 1184-1203 M) dan raja yang terakhir ialah Raja Muda Sedia (753-800 H = 1353-1398 M) . Sedang menurut Majelis Ulama Kabupaten Aceh Timur, raja pertama yang memerintah di sana ialah Raja Muda Sedia (1330-1352 M) dan raja terakhir ialah Raja Po Garang (1490-1528 M); setelah masa pemerintahannya, yaitu pada masa pemerintahan Raja Sri Mengkuta (1528-1558 M). Kerajaan benua Tamiang digabungkan ke dalam federasi Kerajaan Aceh Darussalam yang mulai dibangunkan pada tahun 1514 oleh Sultan Ali Mughayat Syah (sultan yang pertama, 1514-1530 M). Tampaknya pendapat dari Majelis Ulama Kabupaten Aceh Timur searah dengan pendapat yang dikemukakan oleh H.M. Zainuddin dalam bukunya Tarich Atjeh dan Nusantara.

Berhubung sumber-sumber yang dapat mengukuhkan pendapat tersebut di atas sampai saat ini belum diperoleh, maka di bawah ini akan disarikan serba ringkas data-data yang berkenaan dengan Kerajaan Islam Benua Tamiang yang didasarkan kepada apa yang telah dikemukakan oleh Majelis Ulama Kabupaten Aceh Timur dan H.M. Zainuddin. Dengan penyajian ini diharapkan kiranya akan dapat menjadi bahan informasi pendahuluan bagi penelitian selanjutnya.

Sebagaimana disebutkan oleh Majelis Ulama Kabupaten Aceh Timur sekitar tahun 960 di daerah Tamiang telah berkuasa seorang raja yang bernama Tan Ganda dengan tempat kedudukannya Bandar Serangjaya. Bandar ini pada suatu waktu rupanya telah diserang oleh Raja Indra Cola I yang menyebabkan Raja Tan Ganda tewas. Tetapi anaknya, Tan Penuh, berhasil menyelamatkan diri dan setelah keadaan aman kembali, ia memindahkan pusat pemerintahan ke daerah pedalaman, yaitu ke Bandar Bukit Karang di daerah sungai Simpang kanan. Sejak waktu itu berdirilah Kerajaan Bukit Karang dengan rajanya berturut-turut sebagai berikut: 1. Tan Penuh (1023-1044 M); 2. Tan Kelat (1044-1088 M); 3. Tan Indah (1088-1122 M); 4. Tan Banda (1122-1150 M); dan 5. Tan Penok (1150-1190 M).

Setelah Raja tan Penok meninggal, berhubung ia tidak meninggalkan anak, maka seorang anak angkatnya yang bernama Pucook Sulooh diangkat sebagai raja untuk menggantikannya. Sejak waktu itu di Kerajaan Bukit Karang memerintah Dinasti Sulooh dengan raja-rajanya berturut-turut sebagai berikut:
1. Raja Pucook Sulooh (1190-1256 M);
2. Raja Po Pala (1256-1278 M);
3. Raja Po Dewangsa (1278-1300 M); dan
4. Raja Po Dinok (1300-1330 M).

Pada masa kedua dinasti tersebut memerintah, rakyat Tamiang belum lagi memeluk agama Islam. Tetapi diduga besar kemungkinan sekitar abad ke XI M telah ada orang-orang Islam yang berdomisili di daerah Tamiang. Mereka yang tinggal di sana, sebagai seorang muslim tentu mereka berusaha menyiarkan Islam, sehingga tidak mustahil apabila pada awal abad ke XIII, seperti disebutkan Majelis Ulama Kabupaten Aceh Timur, telah ada seorang putra asli daerah Tamiang yang bernama Ampuan Tuan belajar di Dayah Cot Kala (Lembaga Pendidikan Islam di Peureulak).

Pada akhir pemerintahan Po Dinok (tahun 1330 M) satu rombongan angkatan dakwah yang dikirim oleh Sultan Ahmad Bahian Syah bin Muhammad Malikul Thahir (1326-1349 M) dari Samudera Pasai tiba di Tamiang. Rupa-rupanya kedatangan misi dakwah islamiyah itu tidak mendapat sambutan dari Raja Po Dinok, bahkan ia menentangnya sehingga menyebabkan terjadi pertempuran dan dalam pertempuran tersebut Raja Po Dinok tewas. Menurut H.M. Zainuddin sejak waktu itulah daerah Tamiang mulai diislamkan; dan proses pengislaman di sana tampaknya berlangsung dalam waktu yang relatif singkat.

Kemudian oleh Sultan Ahmad Bahian Syah dengan permufakatan para cerdik pandai/bangsawan serta rakyat Taming yang telah memeluk agama Islam, ditunjuk seoang raja yang bernama Raja Muda Sedia (1330-1352 M) untuk memimpin negeri itu. Dengan demikian dialah yang merupakan raja pertama yang menjadi peletak dasar Kerajaan Islam Banua Tamiang (ibu kota benua lokasinya sekitar kota Kualasimpang sekarang).

Sebagai negara Islam yang baru didirikan Raja Muda Sedia segera bertindak untuk mengkonsolidasikan kekuasaan dan menyusun sebuah pemerintahan yang kuat di Kerajaan Benua Tamiang. Adapun bentuk pemerintahan yang disusunnya adalah bentuk pemerintahan yang disebutkan ber “Balai” dengan susunannya sebagai berikut:
1. Raja dibantu oleh seorang Mangkubumi yang mempunyai tugas sehari-hari mengawasi jalannya pemerintahan dan ia bertanggung jawab kepada raja (pada waktu Raja Muda Sedia, mangkubuminya ialah: Muda Sedinu).
2. Untuk mengawasi jalannya pelaksanaan hukum oleh pemerintah atau oleh lembaga-lembaga penegak hukum yang dibentuk, diangkat pula seorang Qadhi Besar.
Di tingkat pemerintah daerah terdapat pula:
1. Datuk-datuk Besar yang memimpin daerah-daerah kedatuan.
2. Datuk-datuk Delapan Suku yang memimpin daerah-daerah suku perkauman.
3. Raja-raja Imam yang memimpin para Imam di daerah-daerah dan sekaligus juga bertindak sebagai penegak hukum di daerahnya.
Selain itu dalam rangka terjaminnya keamanan dan pertahanan negara dibentuk juga lasykar-lasykar rakyat yang berada di bawah seorang panglima yang membawahi juga tujuh panglima daerah, yaitu:
a. Panglima Birin;
b. Panglima Gempal Alam;
c. Panglima Nayan;
d. Panglima Kuntum Menda;
e. Panglima Ranggas;
f. Panglima Megah Burai; dan
g. Panglima Nakuta Banding (khusus bagi lasykar di laut).

Selanjutnya tingkat kepemimpinan yang paling bawah dari susunan organisasi kelasykaran ini ialah Pang yang berada pada setiap kampung di daerah-daerah dalam wilayah Kerajaan Islam Benua Tamiang.

Pada menjelang akhir pemerintahan Muda Sedia, kemungkinan disekitar tahun 1351 M, terjadi serangan Kerajaan Majapahit terhadap Kerajaan Benua Tamiang. Untuk sementara tentara Kerajaan Majapahit berhasil memporakporandakan Kerajaan Tamiang, namun mangkubumi Muda Sedinu dalam waktu yang relatif singkat dapat menguasai keadaan kembali. Dan sejak tahun 1352 M Muda Sedinu menggantikan kedudukan Raja Muda Sedia, tetapi tidak dalam kedudukan sebagai raja penuh, hanya sebagai pemangku sultan saja. Dengan terbentuknya pemerintahan baru itu, pusat kedudukan kerajaan dipindahkan ke Pagar Alam ( sekitar daerah Simpang Jernih sekarang). Faktor yang mendorong dipindahkannya ibukota itu, kemungkinan karena alasan-alasan keamanan dan pertahanan negara, terutama dalam rangka menghadapi serangan dari luar, seperti yang telah terjadi dengan serangan Kerajaan Majapahit. Pemangkuan Muda Sedinu berakhir pada tahun 1369 M. sejak saat itu pucuk pimpinan pemerintahan dipegang oleh Raja Po Malat yang memerintah sampai tahun 1412 M.


Dengan terjadinya penyerangan tentara Majapahit terhadap Kerajaan Benua Tamiang, maka kegiatan penyiaran Islam yang selama ini giat dilaksanakan, terutama di bidang pembangunan pendidikan, dapat dikatakan tidak dapat berjalan dengan semestinya. Pemerintahan baru di Pagar Alam sampai dengan pengganti Po Malat, ialah Raja Po Tunggal (1412-1454 M) ternyata tidak mampu melaksanakan tugas suci itu. Kegiatan mereka pada waktu itu hanya terbatas pada usaha-usaha mengkoordinir kekuatan dan menyusun pemerintahan kembali. Kedaan baru berubah setelah negara menjadi stabil kembali, yaitu pada masa pemerintahan Raja Po Kandis (1454-1490 M). usahanya yang pertama adalah memindahkan pusat kedudukan pemerintahan dari Pagar Alam ke kota Menanggini (daerah Karang Baru sekarang). Dari ibu kota baru itu Po Kandis mulai kembali menggerakkan, terutama ke daerah-daerah pedalaman, penyiaran agama Islam yang selama ini tidak dapat berjalan dengan lancar. Dalam kaitan dengan penyiaran Islam Po Kandis juga bergiat menggerakkan pembangunan pendidikan Islam, seperti pemekaran kembali Dayah Batu Karang, seruan agar pengajian di meunasah-meunasah diramaikan kembali. Selain itu usaha pembinaan seni budaya yang bernapaskan Islam dan mengandung unsur-unsur dakwah juga tidak dilupakan oleh raja ini.

Raja Po Kandis digantikan oleh anaknya, Raja Po Garang (1490-1528) dan setelah itu, berhubung Po Garang tidak berputra, Kerajaan Benua Tamiang diperintah oleh menantu Po Kandis, ipar Po Garang, yang bernama Pendekar Sri Mengkuta (1528-1558 M); dan ia berasal dari daerah Alas . Peristiwa penting yang terjadi pada masa pemerintahannya, ialah penggabungan Tamiang menjadi bagian dari Kerajaan Aceh Darussalam di bawah Sultan Ali Mughayat Syah (1514-1530 M) yang pada waktu itu giat berusaha untuk mempersatukan kerajaan-kerajaan kecil di Aceh dalam satu federasi yang kokoh, terutama dalam rangka menghadapi kemungkinan serangan Portugis yang sedang berusaha mengokohkan penjajahannya di perairan Selat Malaka. Dengan demikian sejak waktu itu berakhir pula Kerajaan Islam Benua Tamiang sebagai kerajaan yang berdiri sendiri.

Sumber : Rusdi Sufi dan Agus Budi Wibowo http://plik-u.com

Sangkapane, Kecamatan Bandar Pusaka (sudut pandang yang berbeda)

Sangkapane, Kecamatan Bandar Pusaka

Wisata 4 Goa, Kecamatan Simpang Kiri

Kaloy, Kecamatan Tamiang Hulu


Pintu Kuari, Kec. Simpang Kiri

Baleng Karang, salah satu daerah paling ujung di Tanah Tamiang, "terpleset dikit" nyampe ke Kab. Gayo Luwes





Kabupaten Aceh Tamiang adalah salah satu kabupaten di Provinsi Aceh,Indonesia.
Kabupaten yang merupakan hasil pemekaran dari Kabupaten Aceh Timur ini terletak di perbatasan Aceh-Sumatera Utara. Istilah "Tamiang" berasal dari kata Da Miang. Sejarah menunjukkan tentang eksistensi wilayah Tamiang seperti prasastiSriwijaya, kemudian ada riwayat dari Tiongkok karya Wee Pei Shih yang mencatat keberadaan negeri Kan Pei Chiang (Tamiang), atau Tumihang dalam Kitab Nagarakretagama. Daerah ini juga dikenal dengan nama Bumi Muda Sedia, sesuai dengan nama Raja Muda Sedia yang memerintah wilayah ini selama 6 tahun (1330-1336). Raja ini mendapatkan Cap Sikureung dan hak Tumpang Gantung dari SultanAceh atas wilayah Karang dan Kejuruan Muda di masa itu.
Kabupaten ini berada di jalur timur Sumatera yang strategis dan hanya berjarak lebih kurang 250 km dari Kota Medan sehingga akses serta harga barang di kawasan ini relatif lebih murah daripada daerah Aceh lainnya. Di samping itu, kawasan ini relatif lebih aman semasa GAM berjaya dahulu. Ketika seruan mogok oleh GAM diberlakukan di seluruh Aceh, hanya kawasan ini khususnya Kota Kuala Simpang yang aktivitas ekonominya tetap berjalan.
Motto : Kaseh pape setie mati

Dari Wikipedia

Sejarah Atjeh Tamiang






Tamiang pada masa lalu pernah terpecah dua hingga menjadi dua kerajaan yakni Kerajaan Karang dan Kerajaan Benua Tunu. Tapi kedua kerajaan itu tetap tunduk pada negeri Karang. Dalam buku Tamiang Dalam Lintas Sejarah yang dikarang Ir Muntasir Wan Diman secara ringkas disebutkan bahwa Kerajaan Tamiang dijadikan dua kerajaan otonom.

Pada masa pemerintahan Raja Proomsyah yang kimpoi dengan Puteri Mayang Mengurai anak Raja Pendekar Sri Mengkuta tahun 1558 menjadi Raja Islam kedelapan dengan pusat pemerintahan di Desa Menanggini.

Sementara itu Raja Po Geumpa Alamsyah yang kimpoi dengan Puteri Seri Merun juga anak Raja Pendekar Sri Mengkuta memerintah di Negeri Benua sebagai Raja Muda Negeri Simpang Kiri Raja Benua Tunu.

Diuraikan Muntasir bahwa Kerajaan Karang muncul setelah Tan Mudin Syari (Raja Islam Tamiang ke 10) wafat, lalu diganti kemanakannya yang bergelar “Tan Kuala” (Raja Kejuruan Karang I) yaitu putera dari Raja Kejuruan Tamiang Raja Nanjo (Banta Raja Tamiang). Raja Kejuruan Karang Tan Kuala memerintah 1662 -1699 merupakan pengganti turunan Suloh.

Setelah Raja Tan Kuala meninggal dunia digantikan Raja Mercu yang bergelar Raja Kejuruan Mercu yang merupakan Raja Kejuruan Karang II. Pusat pemerintahan Raja Kejuruan Karang II di Pente Tinjo. Raja Kejuruan Karang II berdaulat 1699 - 1753 berlangsung aman dan tenteram.

Penggantinya Raja Kejuruan Banta Muda Tan egia berdaulat 1753 - 1800 merupakan Kerajaan Karang III. Selanjutnya Raja Karang III diganti Raja Sua yang bergelar Raja Kejuruan Sua (Raja Karang IV) memerintah 1800 - 1845 . Raja Sua diganti Raja Achmad Banta dengan gelar Raja Ben Raja Tuanku di Karang sebagai Raja Kejuruan Karang V yang memerintah 1845 - 1896 .

Pada masa raja ini-lah terjadi peperangan Aceh dengan Belanda 1873-1908 dan melalui peperangan itu, Raja Kejuruan Karang V meninggal dunia dalam tawanan Belanda.

Penggantinya adalah anak dia sendiri bernama Raja Muhammad bergelar Raja Silang sebagai Raja Kejuruan Karang ke VI. Raja Silang memerintah setelah lepas dari tawanan Belanda sejak tahun 1901 - 1925. Setelah Raja Silang meninggal dunia dimakamkan di belakang Masjid Desa Tanjung Karang. Makamnya saat ini dari pantauan Serambi terawat bersih dan sudah dipugar pihak Dinas Kebudayaan Provinsi NAD setahun lalu.

Pengganti Raja Silang adalah Tengku Muhammad Arifin sebagai Raja Kejuruan Karang ke VII yang merupakan Raja Kejuruan Karang terakhir memerintah tahun 1925 - 1946. Pada masa pemerintahan Tengku Muhammad Arifin dia membangun Istana Karang yang saat ini dikuasai pihak Pertamina Rantau karena sebelumnya keluarga Raja Kejuruan Karang telah menjualnya kepada seorang pengusaha yang bernama Azis.Tapi sekitar tahun 1999 terjadi bencana alam menyemburnya gas panas akibat dari pengeboran gas yang dilakukan pihak Pertamina.

Pemilik istana Azis disebut-sebut meminta ganti rugi kepada Pertamina.Karena sudah diganti rugi oleh pihak Pertamina sehingga istana tersebut dikuasai Pertamina. Belakangan kabarnya istana itu telah dihibahkan Pertamina kepada Pemkab Aceh Tamiang. Karenanya sekarang istana tersebut dijadikan Kantor Perpustakaan dan Arsip Pemkab Aceh Tamiang sebagian dan sebagian lagi dijadikan Kantor Penghubung Kodim 0104 Aceh Timur. Sementara halaman istana tersebut saat ini selalu dibuat acara seremonial keramaian masyarakat.Jika melewati Aceh Tamiang, istana tersebut bisa dilihat karena letaknya persis sekitar 30 meter dari jalan Negara Medan - Banda Aceh yang masuk wilayah Desa Tanjung Karang Kecamatan Karang Baru.

Kini turunan Tengku Muhamad Arifin salah seorangnya yang masih hidup adalah H Helmi Mahera Almoejahid anggota DPD/MPR-RI yang berkantor di Gedung MPR-RI Jakarta. Ibundanya Hj Tengku Mariani adalah putri Tengku Muhammad Arifin Raja Kejuruan Karang VII. Tengku Hj Mariani dipersunting sebagai isteri salah seorang pelaku sejarah Aceh pada zaman DI/TII yang bernama Tgk H Amir Husin Almoejahid (kedua ibunda dan ayahanda H Helmi Mahera Almoejahid ) telah meninggal dunia dan saat ini H Helmi berdomisili di Istana Kecil Kerajaan Karang VII bersama keluarga dan turunan Raja Kejuruan Karang.

Lintas sejarah mengenai Raja Karang berakhir sampai dengan Tengku Muhammad Arifin yang menyisakan sebuah istana yang kini tak jelas siapa pemiliknya. Sebab meskipun kabarnya sudah dihibahkan Pertamina, tapi berita acara serah terimanya tidak ada di daftar kepemilikan asset Pemkab Aceh Tamiang. Karena itu bukti sejarah tentang istana Raja Silang harus segera ditelusuri pihak Pemkab Aceh Tamiang.

Kemudian lintasan Kerajaan Benua Tunu diceritakan dalam buku yang sama di karang Ir Muntasir Wan Diman bahwa pada saat Raja Benua dikuasai Raja Muda Po Gempa Alamsyah sebagai Raja Benua Tunu yang pertama yang diberi gelar Raja Muda Negeri Sungai Kiri Benua Tunu I yang memerintah 1558 - 1588. Setelah wafat Raja Muda Po Gempa Alamsyah berturut-turut akhirnya hingga Raja Benua Tunu III yang dikenal Raja Muda Po Perum sebagai Raje Benua Tunu terakhir yang berdaulat 1629 - 1669. Setelah Raja Benua Tunu III wafat, kekuasaan kembali dipegang Raja Tan Kuala yang berarti Kerajaan Tamiang sudah tidak terpecah kembali.

Belakangan setelah Benua Tunu dikuasai Raja Tan Kuala sekitar tahun 1669 datang-lah Raja Po Nita bersama rombongan yang menggugat tentang silsilah bahwa beliau adalah keturunan Raja Muda Sedia (Raja Islam Tamiang yang pertama) dengan bukti menunjukkan surat dan sislsilah yang lengkap.Akibatnya terjadi perang saudara antara rakyat Tanjong Karang dengan yang mengakui Raja Tan Kuala sebagai Raja Tamiang dan rakyat di Benua Tunu mendukung Raja Penita ( Po Nita) sebagai Raja 

Tamiang, sehingga perang saudara pecah dan banyak memakan korban jiwa.

Kelanjutan dari kekuasaan antara Raja Tan Kuala dengan Raja Penita berakhir dengan campur tangannya Sultan Aceh yang pada saat itu dipimpin seorang ratu yang bernama Ratu Kemalat Syah.Hasil dari intervensi ratu tersebut diputuskan negeri Tamiang dipecah menjadi dua daerah lagi. Raja Tan Kuala sebagai raja yang berkuasa di daerah Sungai Simpang Kanan dan Raja Penita berkuasa di wilayah Sungai Simpang Kiri.

Banyak peristiwa lanjutan dari kedua kerajaan tersebut hingga masa penjajahan Belanda sampai merdeka. Belakangan Negeri Tamiang menjadi bagian dari Wilayah Aceh Timur yang berstatus Pembantu Bupati Wilayah III yang pusat pemerintahannya Kota Kuala Simpang.Selanjutnya 11 Maret 2002 Wilayah Tamiang disyahkan DPR-RI menjadi Kabupaten Aceh Tamiang melalui UU NO 4 Tahun 2002 tentang pemekaran Kabupaten Aceh Tamiang.

Sumber : http://serbagratiss.wordpress.com

Perpanjangan kontrak LOGICA 2 di ACEH TAMIANG

perpanjangan kontrak L2 oleh Bupati Aceh Tamiang 

Jembatan Gantung

Lokasi : Desa Rimba Sawang Kecamatan Tenggulun


 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Skull Belt Buckles